Sabtu, 02 Maret 2013

konseling traumatik



Pada umumya semua manusia mendambakan kehidupan yang bahagia, tenang dan tentram. Mereka terus berusaha untuk menghindari hal-ha yang mungkin merugikan dan menyakitkan, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakatnya, namun kenyataannya ada sebagian masyarakat kita yang belum beruntung dan masih merasakan berbagai penderitaan.
Apabila penderitaan ini terus-menerus menimpa manusia maka manusia akan merasakan kecemasan dan kesakitan yang amat mendalam. Kondisi seperti ini dalam istilah psikologi dinamakan TRAUMA. Trauma ini penting untuk disembuhkan, jika tidak, manusia akan terus-terusan menderita, tidak berdaya dan lumpuh. Padahal manusai adalah makhluk yang memiliki potensi dan sangat potensial untuk dikembangkan kearah yang lebih baik sehingga manusia dapat mencapai kebahagiaan baik dunia maupun akhirat nanti. Untuk mengatasi trauma ini sekaligus mengembangkan potensi manusia kea rah yang lebih baik diperlukan berbagai upaya yang komprehensif dari berbagai pihak.
Konseling Traumatik adalah upaya konselor untuk membantu klien yang mengalami trauma melalui proses hubungan pribadi sehingga klien dapat memahami diri sehubungan dengan masalah trauma yang dialaminya dan berusaha untuk mengatasinya sebaik mungkin.
Konseling Traumatik berbeda dengan konseling biasa. Perbedaan itu terletak pada waktu, fokus, aktifitas dan tujuan. Dilihat dari segi waktu, konseling traumatik pada umumnya memerlukan waktu lebih pendek dibandingkan dengan konseling biasa. Konseling traumatic memerlukan waktu satu hingga enam sesi. Adapun konseling biasa pada umumnya memerlukan waktu satu hingga dua puluh sesi.
Dilihat dari fokus, konseling traumatik lebih memperhatikan pada satu masalah yaitu trauma yang terjadi dan di rasakan sekarang. Adapun konseling biasa umumnya suka menghubungkan satu masalah klien dengan masalah lainnya seperti latar belakang, proses ketidaksadaran klien, interpretasi klien, konflik antar pribadi klien, tekanan karir klien, masalah komunikasi klien, transferensi dan conter tranfensi antara konselor dan klien, krisis identitas dan seksual klien, keterhimpitan pribadi klien serta konflik nilai yang terjadi pada klien.
Dilihat dari aktifitasnya konseling traumatik lebih banyak melibatkan banyak orang dalam membantu klien dan yang lebih banyak aktif adalah konselor. Konselor berusaha untuk mengarahkan, mensugesti, memberi saran, mencari dukungan dari keluarga dan teman klien, menghubungi orang yang labih ahli untuk referral,melibatkan orang lain atau agen lain yang kompeten secara legal untuk membantu klien dan mengusulkan berbagai perubahan lingkungan untuk kesembuhan klien.
Dilihat dari tujuan konseling, konseling traumatik lebih menekannkan pada pulihnya kembali klien pada keadaan sebelum trauma dan mampu menyesuaiakan diri dengan lingkungan yang baru. Proses konseling traumatik terlaksana karena hubungan konseling berjalan dengan baik. Proses konseling traumatik adalah peristiwa yang tengah berlangsung dan memberi makna bagi klien yang mengalami trauma dan memberi makna pula bagi konselor yang membantu mengatasi trauma kliennya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar